Saham Konglomerat Rontok Imbas MSCI, IHSG Terkapar hingga ARB Massal

Jakarta — Pasar saham Indonesia diguncang tekanan jual besar-besaran pada perdagangan Rabu (28/1/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam hingga lebih dari 6% pada awal perdagangan, dipicu sentimen negatif dari pengumuman terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyoroti isu transparansi pasar modal Indonesia.

Berdasarkan pantauan Bloomberg Technoz, IHSG sempat merosot 6,53% ke level 8.393 sesaat setelah pembukaan perdagangan, sebelum sedikit memangkas pelemahan. Dalam 40 menit pertama Sesi I, indeks masih terkoreksi sekitar 5,2%. Tekanan jual mendominasi dengan nilai transaksi mencapai Rp16 triliun dan volume perdagangan menembus 22 miliar saham.

Kondisi pasar mencerminkan aksi panic selling yang meluas. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 638 saham melemah, hanya 41 saham yang menguat, dan 32 saham stagnan. IHSG bahkan tercatat sebagai indeks dengan penurunan terdalam di kawasan ASEAN dan Asia, menurut data Bloomberg.

Saham-saham milik kelompok konglomerat menjadi korban utama. Sejumlah saham terpantau terkunci di Auto Reject Bawah (ARB), di antaranya PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) yang masing-masing anjlok 15%. PT Petrosea Tbk (PTRO) juga merosot 14,8%.

Tekanan serupa juga melanda saham lain seperti COIN dan ENRG yang jatuh 14,9%, UANG turun 14,6%, VKTR terkoreksi 14,6%, BUMI melemah 14,5%, serta GOLF yang terperosok 13,8%.

Keputsan MSCI Jadi Pemicu Utama

Keputusan MSCI menjadi pemicu utama gejolak ini. Dalam laporan yang dikutip dari riset Stockbit Sekuritas, MSCI menyatakan akan memberlakukan perlakuan sementara terhadap pasar saham Indonesia.

Langkah tersebut mencakup pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), penghentian penambahan saham baru ke dalam indeks MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta pembekuan perpindahan saham antar segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.

Menurut MSCI, kebijakan ini diambil untuk menekan risiko investability dan memberi waktu bagi otoritas pasar memperbaiki transparansi, khususnya terkait keandalan data free float dan struktur kepemilikan saham.

Pilihan Redaksi:

Gaet Potensi Investasi Global, Indonesia Pavilion Hadir di WEF Davos 2026

Profil Thomas Djiwandono, Deputi Gubernur BI yang Baru Dilantik

Jika perbaikan signifikan tidak tercapai hingga Mei 2026, MSCI membuka opsi untuk menurunkan bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets Index, bahkan mempertimbangkan reklasifikasi Indonesia ke kategori Frontier Market.

Henan Sekuritas dalam risetnya menilai, kondisi ini membuat narasi “inklusi MSCI” untuk sementara kehilangan relevansi. Investor global akan semakin selektif, hanya melirik saham dengan free float jelas, tata kelola kuat, dan likuiditas solid.

Sementara itu, HP Sekuritas menegaskan bahwa isu MSCI bukan sekadar tekanan jangka pendek, melainkan peringatan struktural bagi pasar modal Indonesia. Meski daya tarik pasar domestik masih terjaga, kualitas fundamental dan transparansi emiten kini menjadi penentu utama kepercayaan investor.

Tags: ,

Rekomendasi