Depok – Bank Dunia menempatkan mata uang rupiah sebagai salah satu yang paling stabil di antara negara-negara berkembang meskipun tekanan geopolitik global dan ketidakpastian tarif memicu adanya arus modal keluar (net capital outflow) dari Indonesia.
Penjelasan tersebut disampaikan oleh Lead Country Economist untuk Indonesia dan Timor Leste di Bank Dunia, David Knight, dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026 di Universitas Indonesia, Depok, pada Senin (24/11/2025).
Knight memaparkan bahwa normalnya, kebijakan moneter yang longgar dari negara-negara maju, seperti yang dilakukan Amerika Serikat, akan mendorong masuknya modal ke negara berkembang. Namun, ia menekankan bahwa pola tersebut tidak terjadi pada tahun ini.
“Dalam kondisi normal, kebijakan moneter longgar biasanya memicu capital inflow ke negara-negara berkembang. Tetapi ketidakpastian geopolitik dan tarif membuat situasinya jauh lebih beragam,” ujarnya.
Menurut Knight, beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia, justru menghadapi arus dana keluar bersih atau net capital outflow. Tren ini, meski tidak besar, telah menambah tekanan pada nilai tukar rupiah yang sempat bergerak di atas level sekitar Rp16.500 per dolar AS sejak pertengahan September.
Kunci Stabilitas Rupiah
Meskipun demikian, David Knight menegaskan bahwa rupiah tetap berada di jajaran mata uang paling stabil di pasar negara berkembang. Stabilitas ini didukung oleh intervensi yang tepat dari Bank Indonesia (BI) dan fundamental ekonomi nasional yang kuat.
“Rupiah tetap relatif stabil. Ini bukan hanya karena kebijakan bank sentral yang responsif, tetapi juga mencerminkan fundamental makro Indonesia yang kuat,” kata Knight.
Rupiah Menguat di Penutupan Perdagangan
Pada hari yang sama, Senin (24/11/2025), nilai tukar rupiah justru ditutup menguat terhadap dolar AS, melebihi prediksi pasar yang memperkirakan adanya pelemahan.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terapresiasi 0,10% atau 17 poin ke posisi Rp16.699 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS terpantau menguat tipis 0,02% ke 100,20.
Rupiah berhasil unggul dibandingkan mata uang Asia lainnya, di mana baht Thailand melemah 0,26%, yuan China melemah 0,02%, peso Filipina melemah 0,07%, dan won Korea Selatan melemah 0,29% per dolar AS.
Sentimen Pasar Global
Dilansir dari bisnis.com, Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah dipengaruhi oleh sentimen global, termasuk kenaikan ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed pada Desember.
“Pidato para pejabat The Fed dan kembalinya data ekonomi AS mengisyaratkan bahwa perekonomian solid, dengan pasar tenaga kerja yang tangguh tetapi harga-harga tetap tinggi. Probabilitas penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh Federal Reserve (Fed) pada bulan Desember melonjak menjadi sekitar 69% dari sekitar 44% seminggu sebelumnya,” ujar Ibrahim.
Selain itu, meredanya konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Ukraina juga menjadi sentimen positif.
Ibrahim menyebutkan bahwa AS dan Ukraina telah menunjukkan kemajuan dalam perundingan mengenai rencana perdamaian yang mencakup penyerahan wilayah dan pembatalan rencana Ukraina bergabung dengan NATO.
Dampak dari kesepakatan damai ini, lanjut Ibrahim, berpotensi mencabut sanksi yang selama ini membatasi ekspor minyak dari Rusia.
Rekomendasi
-
08 Des 2025
UMP 2026 Belum Final, Buruh di Jakarta Minta Rp6 Juta
-
25 Nov 2025
Danantara Ungkap Filosofi Investasi Tenang yang Fokus pada Ketepatan Bukan Kecepatan
-
04 Jan 2026
Harga Rumah Subsidi 2026 Tidak Naik, Ini Daftar Terbaru & Cara Membelinya
-
11 Nov 2025
10 Bank Digital Terbaik di Indonesia 2025. Mana yang Paling Untung?
-
09 Des 2025
Danantara Dukung Program Kemenpora Hilirisasi Industri Olahraga
-
16 Jan 2026
Mengenal Bank Syariah Nasional yang Siap Jadi Penggerak Ekonomi Syariah dalam Negeri

