Hong Kong tengah mengalami lonjakan aktivitas initial public offering (IPO) yang memberi harapan baru bagi perusahaan private equity (PE) yang selama ini kesulitan merealisasikan exit dari portofolio investasi di China, demikian dikutip dari CNBC.com.
Setelah beberapa tahun aktivitas transaksi meredup dan exit yang beku, kesempatan untuk mencatatkan perusahaan di bursa Hong Kong dengan valuasi yang menarik kini meningkatkan optimisme di antara para manajer dana.
Menurut laporan tersebut, hingga Oktober 2025, perusahaan-perusahaan berhasil mengumpulkan sekitar US$ 18,2 miliar melalui IPO, menandakan Hong Kong berpotensi menjadi pusat pencatatan terbesar di dunia tahun ini.
Kenaikan indeks Hang Seng yang signifikan ikut memperkuat sentimen investor.
Kinerja positif ini mendorong kembali minat global terhadap aset-aset China yang sebelumnya dianggap penuh risiko.
Beberapa eksekutif PE menilai valuasi perusahaan-perusahaan China saat ini relatif murah, sehingga menjadi momen yang menarik untuk masuk ke aset berkualitas tinggi berbasis konsumsi dalam negeri.
Scott Chen, mitra di firma L Catterton, menyatakan bahwa investor sekarang punya kesempatan membeli pertumbuhan China “dengan diskon”, terutama pada merek-merek lokal yang tumbuh pesat.
Sementara Nikhil Srivastava, mitra di firma PAG, menambahkan bahwa banyak pemain global telah mundur dari China, mengurangi kompetisi untuk mendapatkan saham perusahaan lokal unggulan.
Menurut Srivastava, meskipun pasar exit masih menantang, beberapa dana PE kini digaji untuk bersabar.
Dia menyebutkan bahwa distribusi profit secara tunai sudah menghasilkan imbal hasil 15–20 persen (cash-on-cash), bahkan sebelum pertumbuhan lebih lanjut.
Sementara itu, Tim Huang dari Lexington Partners menegaskan bahwa meskipun sentimen berbalik positif, para investor tetap bersikap hati-hati.
Untuk meraih potensi jangka panjang dan exit yang menguntungkan, mereka butuh disiplin dan komitmen jangka panjang.
Menariknya, meski IPO menjadi saluran exit yang krusial, masih terdapat sejumlah tantangan.
Menurut laporan CNBC, tumpukan aplikasi IPO di Hong Kong bisa memperlambat proses pencatatan, sehingga pelaku PE harus mempertimbangkan strategi exit alternatif seperti merger, akuisisi, atau transaksi sekunder.
Bagi banyak manajer private equity yang telah lama menahan investasi di China karena kekhawatiran likuiditas, pemulihan aktivitas IPO di Hong Kong ini disambut sebagai “long-awaited release valve” yang memungkinkan mereka mengambil untung setelah periode menanti yang panjang.
Tags: asia
Rekomendasi
-
30 Des 2025
Negara Asia Tenggara yang Tidak Punya Laut, Cuma Satu-satunya!
-
23 Des 2025
Nilai Tukar Yen Terpuruk, Otoritas Jepang Peringatkan Potensi Intervensi Mata Uang
-
24 Des 2025
Profil Zhong Shanshan, Orang Terkaya di China yang Tak Tamat SD
-
01 Nov 2025
Danantara Gandeng SK Plasma Korsel Guna Perkuat Ketahanan Sektor Kesehatan Indonesia
-
04 Des 2025
Asia Tenggara Perketat Pengawasan Penambangan Kripto Ilegal. Kerugian Capai Miliaran Dolar!
-
29 Des 2025
Profil Goh Cheng Liang Orang Terkaya Singapura yang Jadi Pemilik Saham Mayoritas Nippon Paint

IPO Hongkong - FNA November
